GLOBAL MARITIME LEADERSHIP.INFO
Jakarta – Peran akademisi dalam merespons dinamika global kembali mendapat sorotan dalam sebuah forum intelektual bergengsi yang diselenggarakan oleh Forum Guru Besar dan Doktor Insan Cita. Dalam kegiatan bertajuk diskusi awal pekan dengan tema “Udara Indonesia dalam Pusaran Kepentingan AS dan China”, kehadiran Prof. Dr. Capt. Eddy Sumartono menjadi salah satu representasi penting dari kalangan akademisi maritim yang turut memperkaya perspektif multidisipliner.
Acara yang digelar di Jakarta pada 27 April 2026 ini mempertemukan sejumlah tokoh intelektual nasional untuk membahas isu strategis yang kian relevan dalam konteks geopolitik global.
Ketegangan dan rivalitas antara Amerika Serikat dan China tidak hanya berdampak pada sektor ekonomi dan politik, tetapi juga merambah ke wilayah kedaulatan udara dan keamanan nasional Indonesia.
Dalam konteks ini, diskusi menjadi ruang refleksi sekaligus pertukaran gagasan untuk merumuskan sikap strategis bangsa.
Sebagai seorang profesor, praktisi pelayaran, sekaligus pemikir di bidang manajemen dan ekonomi maritim, Prof. Eddy Sumartono hadir sebagai peserta aktif yang menunjukkan komitmen tinggi terhadap pengembangan wawasan kebangsaan. Kehadirannya mencerminkan pentingnya keterlibatan akademisi lintas sektor dalam memahami kompleksitas tantangan global, khususnya yang berkaitan dengan kedaulatan dan kepentingan nasional Indonesia.
Forum ini juga dihadiri oleh sejumlah tokoh nasional terkemuka seperti Didik J. Rachbini, R. Siti Zuhro, Nuhfil Hanani, dan M. Nasih yang turut memberikan pandangan kritis dan konstruktif terhadap isu yang dibahas. Diskusi berlangsung dinamis dengan berbagai sudut pandang yang saling melengkapi, mulai dari aspek politik internasional, pertahanan, hingga implikasi ekonomi.
Dalam konteks tersebut, perspektif maritim yang dibawa oleh Prof. Eddy menjadi nilai tambah tersendiri. Ia melihat bahwa isu kedaulatan udara tidak dapat dilepaskan dari sistem keamanan nasional yang terintegrasi, termasuk domain laut sebagai jalur strategis perdagangan dan pertahanan. Menurutnya, Indonesia perlu memperkuat sinergi antar sektor untuk menghadapi tekanan global yang semakin kompleks.
Partisipasi Prof. Eddy dalam forum ini juga menunjukkan konsistensinya sebagai akademisi yang tidak hanya berfokus pada dunia pendidikan, tetapi juga aktif berkontribusi dalam diskursus kebijakan publik. Hal ini sejalan dengan perannya dalam berbagai karya ilmiah dan buku yang menyoroti transformasi industri pelayaran, kepemimpinan, serta dinamika ekonomi global.
Sertifikat penghargaan yang diterima dalam kegiatan tersebut menjadi simbol apresiasi atas partisipasinya sebagai bagian dari komunitas intelektual nasional. Lebih dari itu, kehadirannya menegaskan bahwa akademisi memiliki tanggung jawab moral untuk terlibat dalam pembahasan isu-isu strategis yang menentukan arah masa depan bangsa.
Melalui forum seperti ini, diharapkan lahir pemikiran-pemikiran konstruktif yang dapat menjadi dasar bagi pengambilan kebijakan yang lebih tepat dan berkelanjutan. Keterlibatan tokoh seperti Prof. Eddy Sumartono menjadi bukti bahwa sinergi antara dunia akademik dan realitas global merupakan kunci dalam menjaga kedaulatan serta memperkuat posisi Indonesia di kancah internasional.(*)